14 Penumpang dan 4 awak Pesawat Cassa 212 Hilang
14 Penumpang dan 4 awak Pesawat Cassa 212 Hilang Pegunungan Bahorok,
Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut)
Pegunungan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut) ternyata milik Badan Pengkajian dan Penarapan Teknologi (BPPT). Pesawat itu hanya disewa oleh Nusantara Buana Air (NBA) sejak tahun 2008.
"Yang memiliki adalah BPPT, kita sewa sejak 2008," kata Safety Manager Nusantara Buana Air Robur KD Rizallianto di kantornya, Jalan Dr Saharjo No 123, Jakarta Selatan, Kamis (29/9/2011).
Robur mengatakan, perusahaannya menyewa lima pesawat dari BPPT. Namun Robur mengaku tidak tahu berapa harga sewa pesawat-pesawat itu. Robur juga tidak menyebutkan apakah kelima pesawat itu berjenis sama atau tidak.
"Ada 5 pesawat dari BPPT sewa itu per term tapi saya kurang tahu per term itu berapa apakah satu tahun atau dua tahun. Harga sewa juga saya tidak tahu berapa," katanya.
Robur menyebutkan, pesawat yang jatuh tersebut buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, Jawa Barat. Namun Robur membantah kondisi pesawat tidak layak terbang karena sudah tua.
"Buatan PTDI di Bandung buatan tahun 1989. Layak atau tidaknya bukan karena tua atau muda tapi dirawat atau tidak, jadi kalau di struktur pesawat kita temukan karatan atau korosi akan kita perbaiki," katanya.
Pesawat itu dilaporkan hilang kontak pada pukul 07.41 WIB. Pesawat yang membawa 14 penumpang dan 4 awak itu ditemukan di Pegunungan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut). Pantauan pesawat Susi Air yang melintas di lokasi, pesawat dalam kondisi utuh dan tidak ada bekas terbakar.
Hingga kini belum diketahui nasib para penumpang. Tim evakuasi belum bisa menuju ke lokasi karena masih tertutup kabut yang cukup tebal.
Pesawat Cassa 212 Diduga Jatuh Akibat Badai Nesat
Jakarta - Hingga kini penyebab jatuhnya pesawat Cassa 212-200 PK-TLF milik PT Nusantara Buana Air (NBA) di pegunungan kapur Aceh Tenggara masih belum diketahui. Diduga pesawat yang membawa 18 orang itu jatuh akibat badai Nesat.
Analisis ini disampaikan pakar meteorologi tropis Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) Dr Tri Handoko Seto dalam surat elektronik kepada detikcom, Kamis (29/9/2011).
Tri Handoko menduga penyebab jatuhnya pesawat itu karena badai Nesat dengan mengambil data cuaca di kawasan Medan hingga Aceh yang dalam kondisi cerah. "Cuaca cerah tidak berarti selalu aman bagi penerbangan, terutama penerbangan pesawat kecil seperti Cassa ini," kata dia.
Menurut Tri, pesawat Cassa 212 biasanya terbang pada ketinggian 7.000 hingga 8.000 feet untuk rute-rute penerbangan komersial. "Pada ketinggian tersebut, kecepatan angin saat ini di wilayah Sumatera bagian tengah hingga utara sangat tinggi, sekitar 20-40 knot. Hal ini terjadi akibat adanya siklon tropis Nesat yang tengah terjadi di sebelah utara wilayah Indonesia," papar Tri.
Tri juga membeberkan pengalamannya yang juga baru saja terbang dengan pesawat model yang sama. "Pengalaman saya kemarin terbang dengan pesawat yang juga dioperasikan NBA di Pekanbaru juga mengalami turbulensi dan angin kencang yang mengakibatkan pesawat terbanting-banting di udara," jelas dia.
Menurut Tri, jika posisi pesawat berada dekat daratan, dalam kasus di Medan pesawat terbang di area pegunungan, maka pesawat sangat rawan terbanting ke bawah (downdraft) sehingga menabrak daratan. "Ini hanya analisis kemungkinan jika pesawat memang mengalami crash," kata Tri.
Pesawat Cassa 212 ini terbang dari Medan pukul 07.00 WIB. Seharusnya pesawat tersebut sampai di Kutacane, Aceh Tenggara pada pukul 08.00 WIB. Pesawat itu terakhir melakukan kontak dengan air control saat berada di atas Bohorok, Kabupaten Langkat. Hingga kini, Tim SAR masih menuju titik lokasi jatuhnya pesawat tersebut. Pesawat itu jatuh di pegunungan kapur di Aceh Tenggara. Semua penumpangnya diduga tewas.
Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut)
Pegunungan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut) ternyata milik Badan Pengkajian dan Penarapan Teknologi (BPPT). Pesawat itu hanya disewa oleh Nusantara Buana Air (NBA) sejak tahun 2008.
"Yang memiliki adalah BPPT, kita sewa sejak 2008," kata Safety Manager Nusantara Buana Air Robur KD Rizallianto di kantornya, Jalan Dr Saharjo No 123, Jakarta Selatan, Kamis (29/9/2011).
Robur mengatakan, perusahaannya menyewa lima pesawat dari BPPT. Namun Robur mengaku tidak tahu berapa harga sewa pesawat-pesawat itu. Robur juga tidak menyebutkan apakah kelima pesawat itu berjenis sama atau tidak.
"Ada 5 pesawat dari BPPT sewa itu per term tapi saya kurang tahu per term itu berapa apakah satu tahun atau dua tahun. Harga sewa juga saya tidak tahu berapa," katanya.
Robur menyebutkan, pesawat yang jatuh tersebut buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, Jawa Barat. Namun Robur membantah kondisi pesawat tidak layak terbang karena sudah tua.
"Buatan PTDI di Bandung buatan tahun 1989. Layak atau tidaknya bukan karena tua atau muda tapi dirawat atau tidak, jadi kalau di struktur pesawat kita temukan karatan atau korosi akan kita perbaiki," katanya.
Pesawat itu dilaporkan hilang kontak pada pukul 07.41 WIB. Pesawat yang membawa 14 penumpang dan 4 awak itu ditemukan di Pegunungan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut). Pantauan pesawat Susi Air yang melintas di lokasi, pesawat dalam kondisi utuh dan tidak ada bekas terbakar.
Hingga kini belum diketahui nasib para penumpang. Tim evakuasi belum bisa menuju ke lokasi karena masih tertutup kabut yang cukup tebal.
Pesawat Cassa 212 Diduga Jatuh Akibat Badai Nesat
Jakarta - Hingga kini penyebab jatuhnya pesawat Cassa 212-200 PK-TLF milik PT Nusantara Buana Air (NBA) di pegunungan kapur Aceh Tenggara masih belum diketahui. Diduga pesawat yang membawa 18 orang itu jatuh akibat badai Nesat.
Analisis ini disampaikan pakar meteorologi tropis Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) Dr Tri Handoko Seto dalam surat elektronik kepada detikcom, Kamis (29/9/2011).
Tri Handoko menduga penyebab jatuhnya pesawat itu karena badai Nesat dengan mengambil data cuaca di kawasan Medan hingga Aceh yang dalam kondisi cerah. "Cuaca cerah tidak berarti selalu aman bagi penerbangan, terutama penerbangan pesawat kecil seperti Cassa ini," kata dia.
Menurut Tri, pesawat Cassa 212 biasanya terbang pada ketinggian 7.000 hingga 8.000 feet untuk rute-rute penerbangan komersial. "Pada ketinggian tersebut, kecepatan angin saat ini di wilayah Sumatera bagian tengah hingga utara sangat tinggi, sekitar 20-40 knot. Hal ini terjadi akibat adanya siklon tropis Nesat yang tengah terjadi di sebelah utara wilayah Indonesia," papar Tri.
Tri juga membeberkan pengalamannya yang juga baru saja terbang dengan pesawat model yang sama. "Pengalaman saya kemarin terbang dengan pesawat yang juga dioperasikan NBA di Pekanbaru juga mengalami turbulensi dan angin kencang yang mengakibatkan pesawat terbanting-banting di udara," jelas dia.
Menurut Tri, jika posisi pesawat berada dekat daratan, dalam kasus di Medan pesawat terbang di area pegunungan, maka pesawat sangat rawan terbanting ke bawah (downdraft) sehingga menabrak daratan. "Ini hanya analisis kemungkinan jika pesawat memang mengalami crash," kata Tri.
Pesawat Cassa 212 ini terbang dari Medan pukul 07.00 WIB. Seharusnya pesawat tersebut sampai di Kutacane, Aceh Tenggara pada pukul 08.00 WIB. Pesawat itu terakhir melakukan kontak dengan air control saat berada di atas Bohorok, Kabupaten Langkat. Hingga kini, Tim SAR masih menuju titik lokasi jatuhnya pesawat tersebut. Pesawat itu jatuh di pegunungan kapur di Aceh Tenggara. Semua penumpangnya diduga tewas.
source: BookmarksNews





0 comments:
Post a Comment